Selasa, 31 Maret 2020
Sabtu, 28 Maret 2020
Penyakit Pada Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
![]() |
| Induk Udang Galah Terserang Temnochepala sp |
Udang galah merupakan salah satu komoditas
perikanan air tawar yang sangat potensial, karena memiliki nilai ekonomis yang
relatif tinggi. Hal ini terlihat dari
permintaan udang galah yang terus
meningkat. Meskipun demikian, permintaan udang galah belum dapat dipenuhi. Hal ini
sebabkan produksi udang galah yang masih rendah bila di bandingkan dengan
produksi jenis udang lainnya. Berbagai kendala masih dihadapi dalam produksi
udang galah konsumsi, mulai dari ketersediaan benih, teknologi pembesaran dan
serangan penyakit pada berbagai fase
budidaya.
Penyakit ikan/udang
dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu
yang dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat
tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Penyakit
dapat timbul akibat dari interaksi
yang tidak serasi antara lingkungan, udang dan organisme penyebab
penyakit. Penyakit pada udang diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu
penyakit infeksi dan penyakit non infeksi. Penyakit infeksi adalah penyakit
yang disebabkan oleh organisme patogen seperti parasit, jamur, bakteri dan
virus yang dapat menular dari satu inang ke inang. Penyakit non infeksi
merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan non patogen seperti nutrisi,
racun dan penanganan.
![]() |
| Larva Udang Galah |
Parasit dapat menyerang udang
galah pada fase pembenihan sampai pembesaran.
Parasit yang menyerang larva
udang galah dari golongan protozoa
adalah Zoothamnium sp, Epistylis sp, dan Vorticella
sp. Protozoa ini biasanya menempel pada
tubuh larva udang galah seperti ruas tubuh, ekor dan karapas. Parasit juga dapat menyerang fase pendederan.
Parasit yang dapat menyerang benih yaitu
Carchesium
sp, Epistylis sp, dan Vorticella
sp. Parasit juga dapat menyerang
pada udang galah dewasa. Parasit yang menyerang udang dewasa dan induk yaitu Temnochepala sp. Parasit ini menyerang
pada insang udang galah.
![]() |
| Epistylis sp |
![]() |
| Vorticela sp |
![]() |
| Temnochepala sp |
Bakteri pada udang galah
Penyakit yang sering menyerang
udang baik di pembenihan maupun pembesaran adalah vibriosis. Penyakit vibriosis dapat menyebabkan kerugian akibat
kematian yang ditimbulkannya. Penyakit tersebut biasanya disebabkan oleh
bakteri Vibrio harveyi. Penyakit yang diakibatkan Vibrio harveyi bersifat sangat akut dan ganas karena dapat
mematikan populasi benih udang yang terserang dalam waktu 1 sampai 3 hari sejak
awal dampak. Larva udang galah pada stadia awal
sangat mudah terinfeksi penyakit
vibriosis yang di sebabkan oleh Vibrio
harveyi
Virus pada udang galah
Penyakit pada udang galah yang di
sebabkan oleh virus yaitu penyakit white
Tail Disease (WTD) atau penyakit
ekor putih. Penyakit ini disebabkan virus Macrobrachium
nodavirus (MrNV) dan Extra small
virus. Penyakit ini menyerang larva, Pasca Larva dan Tokolan. udang galah yang terserang penyakit ini menunjukan tanda berwarna putih susu mulai dari ujung ekor sampai kepala. Penyakit ini merupakan penyakit yang telah menurunkan produksi udang galah di
berbagai negara seperti kawasan Karibia,
India, Thailand dan Indonesia. Infeksi penyakit
ini dapat menyebabkan kematian hingga 100% dalam waktu 2-3 hari pada stadia
post larva. Penyebaran Penyakit ini dapat terjadi secara vertikal dan
horisontal. Secara vertikal dapat
terjadi melalui induk udang galah sebagai carier pembawa penyakit sejak awal
berada dalam sperma maupun telur yang di hasilkan dari induk yang
terinfeksi. Sedangkan secara horisontal
terjadi melalui rantai makanan, kontak langsung dengan udang yang
terinfeksi dan linkungan yang kurang
baik
| Pasca Larva Terserang WTD |
Daftar Bacaan
Falah, K. 2014. Deteksi Virus MrNV (Macrobrachium rosenbergii nodavirus) dan inventarisasi ektoparasit pada udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) Gimacro II (Genetic Improvement of Macrobrachium rosenbergii II). Skripsi.Jurusan Perikanan dan Kelautan. Fakultas Sains dan Teknik. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. 47 hal
Handajani, H dan Samsundari, S. 2005. Parasit dan Penyakit Ikan. UMM Press. 201 hal
Rukyani, A., P. Taufik dan Taukhid. 1992. Penyakit Kunang kunang (Luminescecce vibrios) di hatchery udang windu dan cara penanggulangan penyakit benur di hatchery udang. J. Ltbang Pert. 2:1-17
Kamis, 12 Maret 2020
Distribusi Ukuran Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii ) Hasil Pembesaran
![]() |
| Gambar 1. Udang Galah hasil panen pembesaran |
Udang galah merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki prospek menjanjikan berdasarkan tinjauan aspek budidaya. Hal tersebut dikarenakan udang galah mudah dibudidayakan pada kolam-kolam budidaya, baik secara monokultur maupun polikultur. Udang tawar berukuran besar tersebut juga potensial untuk dikembangkan di lahan persawahan bersama padi, dikenal dengan istilah ugadi (udang galah-padi). Meskipun demikian, teknologi budidaya udang galah intensif (kepadatan > 15 ekor/m2) untuk menghasilkan udang galah konsumsi dengan ukuran besar sesuai permintaan pasar belum terkuasai dengan baik.
Konsumen udang galah
berbeda dengan konsumen udang lainnya. Dimana konsumen lebih menyukai udang
galah ukuran besar dibandingkan ukuran kecil. Udang galah konsumsi size besar
merupakan daya tarik tersendiri pada komoditas udang galah. sehingga pemilihan
padat tebar pada fase pembesaran merupakan pertimbangan yang harus diperhatikan
untuk mencapai ukuran pasar yang diinginkan pada saat panen. Ukuran udang galah yang sangat di minati
pasar adalah size 30, size 20, size 10, dan size 5. Namun untuk mendapatkan
size tersebut tidaklah mudah. Udang
galah berukuran besar seperti size 5 dan
size 10 berasal dari hasil tangkapan di alam, sedangkan hasil budidaya pada saat ini masih lebih banyak menghasilkan
size yang lebih kecil. Udang galah size 30 merupakan ukuran yang paling banyak
di cari dan di jual dipasaran. Hal ini di
karenakan size tersebut dapat diperoleh dari hasil budidaya.
Harga udang galah sangat bervariasi tergantung daerah. Harga
udang galah size 30 di pengepul hasil tangkapan alam di Sungai Kusan Hilir Kalimantan selatan
misalnya di jual dengan harga Rp.
60.000, Size 10 Rp.100.000 dan size 5 Rp. 150.000. Sedangkan Harga udang galah
pada situs online di jual dengan harga lebih tinggi. Udang galah size 30 di
hargai Rp. 120.000 – 165.000 sedangkan size
7-9 Rp. 307.200 – Rp. 324.000 per kilogram.
Meskipun permintaan konsumsi udang galah relatif tinggi,
namun Permintaan udang galah di Indonesia pada saat ini baru terpenuhi 40% dari
seluruh permintaan yang ada (Tambunan, 2009). Hal ini disebabkan masih
rendahnya jumlah produksi udang galah bila dibandingkan dengan produksi jenis
udang lainnya seperti udang windu maupun udang vannamei (Zuhri, 2012).
Teknik budidaya udang
galah senantiasa di kembangkan untuk menghasilkan produksi udang galah dengan
ukuran besar. Ujicoba penggunaan pakan, penambahan frekuensi pemberian pakan,
penggunaan suplemen pakan, teknologi monokultur dan polikultur, penggunaan
probiotik hingga pengaturan ukuran tebar dan padat tebar pembesaran udang galah
dan berbagai uji coba dilakukan untuk menghasilkan udang galah dengan ukuran
terbaik.
Gambar 2. Sizing udang galah hasil pembesaran
Berdasarkan pada hasil kegiatan
pembesaran udang galah selama 4 bulan yang dilakukan dengan padat tebar 4 ekor/m2
dengan ukuran tebar rata-rata 1,3 gram (3-5 cm) menghasilkan prosentase udang galah yang sesuai standar
ukuran pasar (size 10-40) sebesar 82,35% dan ukuran kecil (size 40-100) sebesar
17,35%. Sedangkan Nandlal & Pickering (2006) melaporkan bahwa udang galah
ukuran 30 g (size 30) dapat di peroleh dari hasil budidaya selama 4-6 bulan
dengan kepadatan 5-8 PL/m2. Singh dan Chauhan (2014) menyatakan
bahwa pada pemeliharaan udang galah selama 180 hari dengan bobot awal 0,04 g
(PL 10) dengan kepadatan 60.000 ekor/Ha (6
ekor/m2) menghasilkan panen udang galah dengan rata rata bobot
sebesar 25,37 ±14,21 g.
![]() |
| Gambar 3. Distribusi ukuran udang galah konsumsi dengan padat tebar 4 ekor/m2 |
Padat tebar yang rendah pada fase pembesaran menghasilkan udang galah
dengan ukuran besar sesuai dengan
permintaan pasar. Sedangkan, kepadatan yang lebih tinggi menghasilkan udang
galah dengan ukuran rata-rata lebih kecil. Perbedaan padat tebar akan
mempengaruhi kompetisi dalam mendapatkan
makanan. Kekurangan makanan akan
memperlambat laju pertumbuhan dan meningkatkan kanibalisme.
Beberapa hal penting yang perlu di perhatikan dalam
usaha pembesaran udang galah agar mendapatkan keuntungan antara lain ukuran dan
kualitas PL pada saat tebar, padat tebar PL pada saat pembesaran, waktu
penebaran, pakan dan metode pemberian pakan, manajemen kolam, lama budidaya dan
ukuran pada saat panen (Nandlal & Pickering, 2006) selain itu, keuntungan
budidaya udang galah tergantung produksi, harga pasar dan biaya produksi.
Udang galah merupakan
komoditas perikanan dengan harga tergolong tinggi, terutama udang galah dengan
ukuran besar (> 100 g per ekor) dengan permintaan yang terus meningkat
seiring berkembangnya sektor pariwisata. Meskipun demikian, usaha pembesaran
udang galah harus memperhatikan biaya produksi, jumlah produksi dan harga pasar
pada saat panen agar mendapatkan keuntungan secara maksimal.
Pustaka
Nandlal,
S., dan Pickering, T .2006. Freshwater Prawn Macrobrachium rosenbergii. Farming
In pacific inland countries volume two. grow-out in ponds. Noumia, New
Caledonia : Secretariat of the Pacific Community.
Singh,S
dan Chauhan. R.S .2014. Study on Growt and Survival of Giant Freshwater Prawn,
Macrobrachium rosenbergii, In Tarrai Agroclimatic Regime of Uttarakhand. J.
Ecophysiol. Occup. Hlth. 14 (3&4).2014. 165-170. The Academy of
Environmental Biology. India
Tambunan
LA. 2009. Gurihnya Laba Udang Galah. www.lipi.go.id [17 November 2012].
Zuhri S. 2012. Produksi Udang: Tahun Ini
Diprediksi Naik 10%. http://www.bisnis.com/articles/produ
ksi-udang-tahun-ini-diprediksi-naik10-percent [14 November 2012].
Jumat, 17 Januari 2020
Transportasi Calon Induk Udang Galah (Macrobranchium rosenbergii ) Dengan Sistem Terbuka
I. PENDAHULUAN
| Gambar 1. Mobil Pengankutan Calon Induk |
Udang galah (Macrobranchium
rosenbergii) merupakan salah satu jenis udang air tawar yang mempunyai
potensi besar untuk dikembangkan secara luas sebagai komoditas perikanan
perairan tawar Indonesia. Kegiatan budidaya udang galah dapat dilakukan oleh
masyarakat secara luas dikolam, sawah maupun tambak. Namun untuk mendukung budidaya
udang galah pada fase pembesaran dibutuhkan bibit yang tersedia dalam jumlah
yang cukup dan tersedia terus menerus.
Kebutuhan
benih udang galah terus mengalami peningkatan, sedangkan panti – panti
pembenihan atau unit pelaksana teknis (UPT) yang menyediakan benih udang galah
masih terbatas, sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan benih udang galah. Selain itu, panti pembenihan juga mengalami kendala dalam penyediaan
induk. Induk udang galah hasil domestikasi dan pemuliaan masih terkendala dengan adanya kematian yang tinggi selama pengangkutan. Sehubungan dengan hal
tersebut diperlukan dukungan teknologi penanganan dan transportasi induk udang
galah.
Transportasi udang galah adalah memindahkan udang galah
dari suatu tempat ke tempat lainnya, pada dasarnya adalah memaksa menempatkan
udang galah dalam suatu lingkungan baru yang berlainan dengan lingkungan
asalnya, disertai perubahan sifat lingkungan yang sangat mendadak. Oleh karena
itu, pengangkutan udang galah harus dilakukan secara hati-hati dalam
penanganannya, jika tidak dilakukan secara hati-hati udang akan menjadi
hiperaktif sehingga meningkatkan laju konsumsi oksigen dan laju ekresi sisa
metabolisme yang dapat meningkatkan resiko kematian pada saat pengangkutan.
Pengangkutan
udang galah hidup dapat dilakukan dengan system terbuka menggunakan wadah
yang diberi aerasi dan system tertutup menggunakan wadah yang diberi oksigen.
Transportasi udang galah jarak jauh dengan system
tertutup lebih praktis dibandingkan system terbuka, namun kelemahannya
adalah oksigen yang diberikan pada wadah pengangkutan sangat terbatas sehingga
kepadatan udang dalam wadah dan jarak tempuh sangat menentukan keberhasilan
pengangkutan udang galah.
1.2.
Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui tingkat
kelangsungan hidup Calon induk udang galah dengan sistem transportasi terbuka.
II.
METODE
KEGIATAN
2.1. Alat dan
Bahan
| Gambar 2. Blong Pengangkutan Calon Induk |
Peralatan
yang digunakan dalam kegiatan ini adalah mobil bak tertutup, Blong plastik
kapasitas 230 liter, blower, selang aerasi, batu aerasi, waring untuk selter 60
cm x 110 cm, seser, ember, selang, Tabung gas oksigen, penggaris mangkuk, Water Quality Control (WQC) dan
timbangan digital. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu induk udang galah GPS (great parent stock) sintetik F3 betina
dengan berat rata-rata 21.96 gram dan induk jantan dengan berat rata-rata 42.51
gram.
2.3. Cara Kerja
Kegiatan
pengangkutan Calon induk udang galah dimulai dengan pengangkatan induk dari
kolam pemeliharaan di kolam 400 m2 selanjutnya calon induk ditampung dalam
bak 5 m2 agar dapat beradaptasi pada lingkungan bak terkontrol.
Sebelum pengangkutan induk disampling panjang dan bobotnya terlebih dahulu.
Calon induk udang galah dipuasakan selama 24 jam terlebih dahulu sebelum
dilakukan pengangkutan ke BBI Majenang dengan tujuan untuk mengurangi sisa
metabolisme pada media air saat pengangkutan. Pengangkutan dilakukan pada malam
hari untuk menjaga suhu pengangkutan agar tetap stabil. Pengangkutan dilakukan
dengan sistem pengangkutan secara terbuka dengan empat blong
plastik yang dimasukan dalam mobil bak tertutup. Blong plastik diisi air
sebanyak 115 liter. Setiap blong plastik diisi calon induk udang galah sebanyak
275 ekor. Sebagai selter dimasukan waring hitam berukuran 60 cm x 110 cm
sebanyak 5 lembar per blong. Pengangkutan
dilakukan mulai jam 20. 30 WIB dari Balai Riset Pemuliaan Ikan Sukamandi
dan sampai di Kabupaten Cilacap pada jam 7.30 WIB atau 11 jam perjalanan. Sebelum
dimasukan ke kolam pemeliharaan induk udang galah yang mati dihitung untuk
mengetahui tingkat kelangsungan hidup selama perjalanan.
| Gambar 3. Pelepasan Calon Induk Ke Kolam |
Selama pengangkutan dilakukan pengukuran kualitas air dengan menggunakan
water quality control. Parameter yang di ukur yaitu kandungan oksigen
terlarut, derajat keasaman (pH), suhu dan conductivity.
III. HASIL
PENGAMATAN
Data pengamatan tingkat kelangsungan hidup/survival rate
selama pengangkutan udang galah dari Balai Penelitian Pemuliaan Ikan Sukamandi sampai Kabupaten Cilacap disajikan dalam table 1.
Tabel
1. Kelangsungan hidup calon induk udang galah selama pengangkutan
No. Wadah
|
Jumlah (ekor)
|
Kelangsungan hidup
|
|
Awal
|
Ahir
|
(%)
|
|
1
|
275
|
271
|
98.55
|
2
|
275
|
269
|
97.82
|
3
|
275
|
272
|
98.91
|
4
|
275
|
275
|
100.00
|
Jumlah
|
1100
|
1087
|
|
Rata-rata
|
275
|
272
|
98.82
|
SD
|
0
|
2.5
|
0.91
|
Data kualitas air selama pengangkutan calon induk udang galah disajikan dalam table 2 sebagai berikut :
Tabel
2. Parameter Kualitas Air Selama Pengangkutan Calon Induk Udang Galah
No. Wadah
|
Parameter kualitas Air
|
||
Suhu (oC)
|
pH
|
DO (mg/l)
|
|
1
|
26.2 - 28.7
|
7.76 - 7.78
|
4.6 - 7.7
|
2
|
25.7 - 28.7
|
7.96 - 8.02
|
4.4 - 5.2
|
3
|
26.9 - 28.7
|
7.89 - 7.97
|
5.4 - 7.7
|
4
|
27.1 - 28.7
|
7.72 - 7.82
|
4.7 - 7.7
|
![]() |
| Gambar 4. Calon Induk Udang Galah |
Pengangkutan
calon induk udang galah dengan jarak tempuh selama 11 jam menghasilkan tingkat kelangsungan hidup calon induk udang galah yang relatif tinggi.
Langganan:
Postingan (Atom)





















