Tampilkan postingan dengan label Pembenihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembenihan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2019

Pemanfaatan Spirulina Sp pada Pembenihan Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii)



           
Gambar 1. Spirulina sp
Pembenihan merupakan salah satu fase pada budidaya udang galah. Pembenihan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan Pasca larva (PL). secara umum  pembenihan udang galah dilakukan dengan system air jernih (Clear water system) dimana pembenihan dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap jernih selama pembenihan. Selain itu pembenihan udang galah dapat dilakukan dengan system air hijau (Green water system). Pembenihan sistem air hijau adalah pembenihan dengan memanfaatkan mikroalga untuk membentuk media pembenihan menjadi berwarna hijau. Pembentukan warna media dapat dilakukan dengan menambahkan mikro-alga yang diinginkan. Mikro-alga yang dapat digunakan dalam pembenihan udang antara lain Nannochloropsis sp, Chaetoceros sp, Tetraselmis sp,  dan Spirulina sp.
Spirulina sp  adalah miro-alga berwarna hijau kebiruan yang hidupnya tersebar luas pada berbagai ekosistem perairan tawar, payau dan laut (Ciferri, 1983). Spirulina sp telah dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya organisme laut seperti rotifer, larva oyster, kerang mutiara, abalone, udang, kakap dan kerapu. Kandungan protein Spirulina sp sebesar 60-0 %, lemak 8%, karbohidrat 16%klorofil-a 1,6%, pikosianin 18%betacarotin 17%, asam linoleat 20-30% dan Vitamin. Spirulina sp juga mengandung pigmen warna caretonoid yang tinggi serta sebagai sumber potassium, kalsium, krom, tembaga, besi, magnesium, fosfor, selenium, sodium dan seng. 
Gambar 2. Fiber Pemeliharaan Larva Udang Galah
Kultur Spirulina sp skala kecil dapat dilakukan dengan menggunakan bak container berkapasitas 50 liter yang diisi air payau bersalinitas 12 – 15 ppt. sedangkan kultur secara masal dapat dilakukan dengan menggunakan bak berkapasitas 1 ton atau lebih. Bibit untuk budidaya dapat diperoleh pada instansi-instansi yang memproduksi bibit murni Sprirulina sp.   Bibit Spirulina pada kegiatan ini diperoleh dari Balai Budidaya Air Payau Jepara Jawa Tengah. Kultur masal dilakukan dengan cara menyiapkan air media kultur yang telah di sterilkan dengan menggunakan klorin. Klorin untuk sterilisasi media menggunakan dosis 30 mg/L. Air media yang sudah di netralkan diberikan pupuk urea 80 mg/L dan TSP 40 mg/L. Selanjutnya bibit di tebarkan pada media kultur sebanyak 10 persen dari volume kultur. Spirulina sp  dapat dipanen setelah 5-7 hari setelah penebaran bibit. Kepadatan Spirulina sp  dapat dilakukan dengan menggunakan Sedgwick-rafter perbesaran 10x untuk menentukan banyaknya alga pada bak masal sehingga dapat di hitung banyaknya alga yang akan di berikan pada media pembenihan udang galah
Gambar 3. Larva Udang Galah Pada Media Dengan Spirulina sp 

Pemberian Spirulina sp pada media pembenihan di berikan dengan kepadatan 10.000 – 15.000 sel/ml untuk membentuk warna hijau. Pemberian alga  dilakukan pada awal pembenihan dan di pertahankan   sampai  pemanenan pasca larva (PL). 
Kegiatan Pembenihan  udang galah dilakukan di Balai Riset Pemuliaan Ikan Sukamandi dengan menggunakan bak fiber berkapasitas 1.500 liter dengan kepadatan larva 50 ekor/liter.  Kegiatan pembenihan terdiri dari 3 bak perlakuan (Sp) dan 3 bak kontrol (K).
Berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan, pembenihan udang galah dengan memanfaatkan Spirulina Sp menghasilkan produksi pasca larva rata-rata sebesar 37.966 ekor sedangkan pembenihan tanpa Spirulina Sp menghasilkan PL rata-rata sebanyak 25.969 ekor (Tabel 1). Berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa pembenihan dengan memanfaatkan Spirulina Sp sebagai media pembenihan mampu meningkatkan produksi pasca larva udang galah sampai 46 % lebih tinggi di bandingkan pembenihan udang galah tanpa Spirulina sp

Tabel 1. Produksi Pasca Larva (PL) udang galah selama pembenihan



Kamis, 14 Desember 2017

Pakan Buatan Pembenihan Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii)

Pakan merupakan salah satu bagian yang penting pada budidaya udang galah. Pakan larva pada pembenihan udang galah terbagi menjadi dua, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pembenihan udang galah menggunakan naupli artemia sebagai pakan alami, sedangkan pakan buatan yang digunakan berupa adonan roti atau egg custard. Penggunaan pakan buatan dalam bentuk adonan roti (egg custard) masih menjadi pilihan dalam pembenihan udang galah. Hal ini disebabkan belum adanya pilihan pakan buatan untuk larva udang galah.  Pakan buatan mulai diberikan pada larva stadia 7 atau setelah larva dipelihara 10 hari.  Berdasarkan pada berbagai penelitian yang telah dilakukan, diperoleh beberapa formula pakan buatan yang dapat digunakan dalam pembenihan udang galah. Formula pakan buatan pada umumnya terdiri atas telur, susu berkalsium, daging ikan atau cumi, bahan pengikat, vitamin, dan mineral.  Formula pakan buatan yang telah dipublikasikan memiliki kandungan protein kasar yang relatif tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pakan buatan pada pembenihan udang galah. Proses pembuatan egg custard adalah sebagai berikut :
1.  Membersihkan cumi dari kotoran, tinta dan gigi.   selanjutnya mengukus sampai cumi menjadi lunak, kurang lebih selama 10 menit, lalu ditiriskan.
2.    Haluskan cumi dengan menggunakan blender.
3. Mencampur secara merata bahan-bahan baku egg custard, yakni cumi, susu berkalsium, telur ayam atau telur bebek dan tepung terigu dengan ditambah air secukupnya. Kemudian adonan tersebut diblender lagi sampai benar-benar halus.
4. Memasukkan adonan yang sudah halus ke dalam loyang dan dikukus sampai matang atau sampai adonan sudah terasa keras, kurang lebih selama 1 jam dengan menggunakan kompor dengan nyala api sedang.
5.  Mengangkat dan meniriskan adonan yang sudah matang (egg custard). Setelah itu, dalam keadaan cukup panas membelah adonan berbentuk kotak ukuran 2 x 2 cm.
6. Menambahkan multivitamin dengan cara menuangnya di atas andonan, dan mengoleskan secara merata di permukaan adonan dan celah irisan.  Biarkan beberapa saat hinggá multivitamin terserap.
7.  Menyimpan egg custard dalam freezer sehingga tidak rusak karena mikroorganisme dan serangga.




Ukuran pakan sangat berpengaruh terhadap efektifitas  makan larva udang galah, maka dalam pemberiannya, ukuran egg custard harus disesuaikan dengan umur larvanya. Penyesuaian ukuran egg custard melalui teknis penyaringan dengan jenis ukuran mata saringan berbeda.  Secara sederhana saringan yang digunakan terdiri atas 3 jenis, yaitu saringan teh, saringan kelapa bermata saring kecil, dan saringan kelapa bermata saring lebih besar. Egg custard memiliki kandungan protein tinggi dan mudah larut dalam air maka penggunaanya harus sesuai dengan dosis sehingga tidak mengotori media pemeliharaan larva yang berakibat pada rusaknya kualitas air seperti meningkatnya kadar amonia, nitrit, dan asam sulfida yang  beresiko mematikan larva. Pakan buatan diberikan sedikit demi sedikit dengan frekuensi pemberian tiap 2 jam selama siang hari, sementara selama malam hari larva diberi pakan naupli artemia dalam jumlah memadai



Sabtu, 30 Mei 2015

PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LARVA UDANG GALAH (Macrobranchium rosenbergii) PADA PEMELIHARAAN DENGAN PENAMBAHAN BIOFLOK


Ahmad Ali Akbar, Dede Sukarta dan Nurdiansyah
Teknisi Litkayasa pada Balai Penelitian Pemuliaan Ikan  Sukamandi
Jl. Raya Sukamandi No. 2 Subang 41256

ABSTRAK

Ketersediaan benih udang galah merupakan salah faktor yang menentukan tingkat produksi udang galah. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk memperoleh teknologi pembenihan yang lebih produktif.  Bioflok merupakan salah satu alternatif sumber pakan alami larva udang galah. Pemeliharaan larva dilakukan dengan perlakuan tanpa penambahan bioflok (kontrol) dan penambahan bioflok sebanyak 5 ml/l. Masing-masing perlakuan diulang 6 kali. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa pertumbuhan larva lebih baik pada perlakuan kontrol dibandingkan dengan penambahan bioflok, namun sintasan larva kontrol lebih rendah yaitu sebesar 52.30%, dibandingkan  sintasan pada pemeliharaan dengan penambahan bioflok yaitu sebesar 73.68%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dinyatakan bahwa bioflok berpengaruh terhadap tingginya kelangsungan hidup larva.

Kata kunci : benih, bioflok, sintasan, udang galah